Tanjung Gaang dan Tuah Akar Kayu Stigi

posted in: Travel Journal | 25

Pagi-pagi sekali usai sarapan di rumah Pak Fattah, warga lokal Bawean yang  kutumpangi menginap, aku melanjutkan lone traveling lagi. Menyusuri jalan pedesaan. Kali ini aku singgah ke Tanjung Gaang. Orang Bawean biasa melafalkannya sebagai Tanjung Geeng yang bermakna tanjung kodok. Lokasi wisata pantai tebing batu ini terletak di Dusun Somor-somor Tanjung Kima Desa Kumalasa, Sangkapura Bawean.

Dari Sangkapura, perjalanan bisa ditempuh melewati Desa Lebak. Sampai gapura Desa Lebak lurus saja terus sampai nantinya ada pertigaan. Ambil saja jalan ke kanan. Nantinya jalan jadi menanjak. Memaksa motor meliuk naik turun  karena kontur alam Bawean yang berbukit. Sementara kanan kiri adalah hutan desa.

Untung aku ke Tanjung Gaang saat siang hari. Tak heran, beberapa warga lokal pada hari sebelumnya melarangku untuk pergi ke Somor-somor saat hari mulai gelap. rasa waswas itu tentunya bukan karena begal, melainkan jalanan sempit nan gelap serta tanpa penunjuk arah. Itu yang bikin deg deg ser.

Setelah bertanya sana sini akhirnya tiba juga aku di pantai desa Somor-somor. Pagi hari terlihat nelayan désa yang mengangkut hasil tangkapan laut. Kedatanganku mengganggu konsentrasi mereka. Aku bilang ke mereka mau sewa perahu untuk ke Tanjung Gaang. Kemudian aku pun dikenalkan pada bapak parobaya berperawakan kecil, namanya Pak Hasmi. Awalnya dia tampak enggan mengantarku karena tampak tengah sibuk usai melaut. Namun, meski berat hati dia pun mengiyakan juga. Aku disuruh menunggu di Jukung miliknya sementara dia pergi meminjam mesin perahu dari tetangganya. Tak lama berselang hasmi mengantarku menuju tanjung Gaang lewat jalur laut. Sebenarnya ada jalur darat tapi jalur laut menyuguhkan pemandangan yang lebih indah. Banyak karang berbentuk mirip katak. Bahkan ada yang berbentuk seperti gerbang Kastil.

Sekitar 15 menit perjalanan akhirnya kami (aku, pak hasmi dan anaknya) tiba di pantai kecil di tanjung Gaang. Menyusuri jalan setapak yang dipandu oleh pak hasmi aku sampai di bebatuan karang. Saat dipijak, karang terasa sangat tajam. Padahal sol sandal ku lumayan tebal. Sementara, Pak hasmi malah melangkah di karang dengan bertelanjang kaki. Aku jadi ingat dengan Rob Bredl, pemandu acara alam liar bertubuh tambun plus brewokan. Doi selalu tanpa alas kaki saat di alam.

Tak lama mendaki terjalnya batuan karang sampai juga aku di bagian atas hamparan karang Tanjung Gaang. Pemandangan yang tampak begitu luas. Lautan biru jernih bisa terlihat dari lubang batu karang. Dari atas juga tampak beberapa spesies ikan terumbu karang dan hiu black tip.

Kayu Stigi Telah Punah

Di atas hamparan karang sesekali aku melihat monyet ekor panjang berlari menjauh. Rupanya karena Hasmi dan anaknya yang sedang celingukan mencari sesuatu di balik tanaman perdu batuan karang. Setelah aku tanya barulah dia menjawab. “Cari akar Kayu Stigi mas,” sahutnya. Aku tak tahu kayu jenis apa itu. Buat apa juga mencari kayu itu sampai-sampai aku diabaikannya?

Usai mengambil foto keindahan lanskap, aku pun baru tahu apa itu kayu Stigi yang bertuah saat dipaksa mampir ke rumah Hasmi. Bapak yang pernah jadi TKI di malaysia itu bercerita kalau dulu di atas tanjung Gaang banyak ditumbuhi tanaman Stigi yang akarnya berharga sangat mahal. Akar Stigi dipakai untuk pembuatan tasbih, gelang atau cenderamata. Satu tasbih dengan akar kayu itu dihargai minimal ratusan ribu. Belum lagi akar Stigi juga bertuah untuk obat dan pengasihan membuat harganya makin mahal hingga jutaan.

Karena Stigi yang banyak diburu itulah kenapa sekarang sudah susah sekali menemukan keberadaannya di tanjung Gaang. Menurut Hasmi, orang desa dahulu cuek cuek saja dengan tumbuhan  yang bentuknya mirip semak belukar itu. Namun beberapa penduduk yang usai kembali merantau tahu kalau akar kayu Stigi sangat diburu di luar Bawean. Dari sana lah Stigi mulai sering diambil penduduk hingga sekarang habis. Hasmi pun memperlihatkan padaku bentuk akar kayu Stigi yang disimpannya. Seperti batang kering tapi sangat keras. Tak seperti kayu yang mengambang, akar Stigi bila jatuh ke dalam air akan tenggelam.

Sebelum berpamitan, aku dijamu layaknya saudara, bukan sebagai turis yang sedang melancong. Hasmi sangat baik. Aku doakan pak rezekimu lancar meski kau sempat mengeluh mencari ikan sekarang sudah susah. Suatu hari nanti aku ingin menemuimu kembali.

*Catatan perjalanan lone traveling ke pulau Bawean

-admin-

Share this:

25 Responses

  1. Appreciate you sharing, great blog.Thanks Again. Really Great.

  2. Thanks so much for the article post.Really looking forward to read more.

  3. Very good blog post.Much thanks again. Really Cool.

  4. I appreciate you sharing this article.Really thank you! Awesome.

  5. I really like and appreciate your blog.Really thank you! Awesome.

  6. Thanks for sharing, this is a fantastic post. Really Cool.

  7. This is one awesome blog article.Thanks Again. Much obliged.

  8. I really enjoy the blog article.Really looking forward to read more. Awesome.

  9. Really informative blog.Much thanks again. Keep writing.

  10. Appreciate you sharing, great article post.Much thanks again. Want more.

  11. Really appreciate you sharing this blog post.Really looking forward to read more. Want more.

  12. Im grateful for the article.Much thanks again. Will read on…

  13. Thanks-a-mundo for the blog article.Really looking forward to read more. Keep writing.

  14. porn movies

    Thanks so much for the post. Really Great.

  15. I appreciate you sharing this blog article.Really looking forward to read more. Great.

  16. big dildos

    1BFR0s Thanks again for the blog article.Really thank you! Much obliged.

  17. I?¦m no longer positive the place you are getting your information, but good topic. I needs to spend a while learning more or figuring out more. Thanks for magnificent info I was in search of this info for my mission.

  18. Thanks a lot for the article post. Fantastic.

  19. Very good blog. Fantastic.

  20. Hej Astrid, Det er skønt at høre at de hitter i New York ogsÃ¥ 😉 De pandekager er en af mine personlige totvofaripter som morgenmad. Bor du i New York? Det glæder mig at du følger med pÃ¥ bloggen 🙂 Kærlig hilsen Ann-Christine

  21. That’s more than sensible! That’s a great post!

  22. Sono d’accordo Giovanni e lì è possibile fare di più anche nel breve tempo. L’e-book è solo una mera copia di un cartaceo, mentre si potrebbe fare tantissimo.Grazie del tuo commento

  23. I don't get it. Islam is the enemy, but the ME can be "lost"? And how is the Obamination weak when he and Clinton calls for restraint from the Mubarak regime? That goes way passed weak into a passive support for the rioters.There is nothing to lose in the ME and nothing to gain either.

  24. Website Design is fraught with opinion and bruised egos, and as a designer told me recently, he had to ‘develop very tough skin’. For my part, it always brings to mind a phrase that I borrow from Avinash of occams razor, which is HIPPO.

  25. Oh my goodness, those are gorgeous!I just got back to the USA after 5 months in Manchesters and am constantly missing River Island, Primark, and the many wonderful topshops!

Leave a Reply